Jagung dapat menjadi sumber energi dalam ransum ternak karena kandungan patinya cukup tinggi dan bahan ini mudah ditemukan di banyak daerah. Agar manfaatnya optimal, peternak perlu mengolah jagung dengan benar mulai dari pemilahan hasil panen hingga penggilingan dan pencampuran dengan bahan pakan lain.
Pengolahan yang kurang tepat dapat membuat bahan tercemar, terlalu lembap, atau sulit dimanfaatkan sesuai kebutuhan ternak. Karena itu, setiap tahap perlu memperhatikan kebersihan, kondisi biji, serta jenis hewan yang akan menerima pakan tersebut.
Tahapan Pengolahan Jagung untuk Pakan Ternak
1. Pilih dan Periksa Jagung
Mulailah dengan memilih jagung yang sudah matang dan memiliki kondisi fisik baik sebelum masuk ke proses pengolahan. Pisahkan tongkol busuk, biji berjamur, serta bahan yang mengeluarkan bau apek karena dapat menurunkan mutu pakan.
Perhatikan pula keberadaan batu, tanah, serpihan tongkol, dan benda asing lain yang terbawa saat panen. Pemeriksaan awal membantu mencegah kotoran masuk ke mesin dan mengurangi risiko kontaminasi pada hasil akhir.
2. Pipil Biji dari Tongkol
Jika bahan masih berbentuk tongkol, pisahkan biji menggunakan pemipil manual atau mesin sesuai jumlah panen. Untuk pekerjaan dalam jumlah besar, alat pemipil jagung dapat menghemat waktu dan tenaga dibandingkan pemisahan satu per satu.
Sebelum mesin digunakan, periksa bagian penggerak dan pelindungnya serta pastikan alat berdiri stabil. Masukkan tongkol secara bertahap sesuai kapasitas mesin, lalu matikan sumber tenaga sebelum mengatasi kemacetan atau membersihkan bagian dalam.
3. Keringkan hingga Kadar Air Sesuai
Biji hasil pipilan perlu dikeringkan jika kadar airnya masih tinggi sebelum disimpan atau digiling. Sebarkan jagung di atas alas bersih atau gunakan pengering yang sesuai, lalu balik secara berkala agar pengurangan kelembapan berlangsung lebih merata.
Kadar air sekitar 13–14% dapat menjadi acuan awal untuk penyimpanan jagung kering, tetapi target perlu menyesuaikan lama penyimpanan dan standar pembeli. Jangan menyimpan biji yang masih lembap dalam karung tertutup karena kondisi tersebut dapat mendorong pertumbuhan jamur dan pembentukan mikotoksin.
4. Sortir dan Giling Biji Jagung
Setelah kering, ayak jagung untuk memisahkan serpihan tongkol, debu, dan kotoran lain yang masih tersisa. Ambil biji yang rusak atau berubah warna secara tidak wajar, lalu jangan gunakan biji berjamur sebagai bahan pakan.
Atur tingkat penggilingan berdasarkan jenis ternak, umur, dan bentuk ransum yang akan dibuat. Jagung dapat digiling menjadi pecahan atau tepung, tetapi ukuran partikel untuk unggas belum tentu sama dengan kebutuhan sapi atau kambing.
5. Campurkan dengan Bahan Pakan Lain
Jagung terutama menyumbang energi sehingga biasanya perlu dipadukan dengan sumber protein, mineral, vitamin, dan bahan lain sesuai kebutuhan ternak. Tentukan komposisi berdasarkan spesies, umur, dan fase pertumbuhan, bukan menggunakan satu resep untuk semua hewan.
Campur bahan secara bertahap sampai sebarannya merata agar setiap porsi ransum memiliki komposisi yang serupa. Untuk ransum lengkap atau penggunaan bahan tambahan, konsultasikan formulasi dengan ahli nutrisi ternak atau penyuluh peternakan setempat.
6. Simpan dan Catat Hasil Pengolahan
Simpan jagung giling atau campuran pakan di wadah bersih dan kering yang terlindung dari hama. Buat persediaan sesuai kebutuhan agar bahan tidak terlalu lama tersimpan, terutama karena penggilingan memperbesar permukaan bahan dan dapat mempercepat penurunan mutu.
Catat tanggal pengolahan, jumlah bahan, kondisi penyimpanan, dan penggunaan harian supaya persediaan mudah dipantau. Untuk kebutuhan alat pengolahan lainnya, kunjungi situs Rumah Mesin dan sesuaikan peralatan dengan skala usaha peternakan.
Kesimpulan
Cara mengolah jagung untuk pakan ternak meliputi pemeriksaan bahan, pemipilan, pengeringan, penyortiran, penggilingan, pencampuran, dan penyimpanan. Dengan menjaga kebersihan serta menyesuaikan ukuran giling dan formulasi terhadap kebutuhan hewan, peternak dapat menyiapkan bahan pakan dengan lebih teratur dan aman.

