Cara menghitung hasil olahan singkong penting dipahami oleh pelaku usaha makanan ringan maupun produsen bahan pangan. Perhitungan ini membantu mengetahui jumlah produk yang berhasil dibuat dari bahan mentah, berapa banyak bagian yang terbuang, serta seberapa efisien proses produksi berjalan. Dengan pencatatan yang teratur, pengusaha dapat memperkirakan kebutuhan singkong untuk pesanan dan menentukan biaya produksi secara lebih tepat.
Hasil pengolahan tidak selalu memiliki berat yang sama dengan bahan awal. Singkong mengalami perubahan setelah dikupas, dicuci, dipotong, digoreng, atau dikeringkan. Setiap proses dapat mengurangi atau mengubah berat bahan. Oleh karena itu, penimbangan pada beberapa tahap diperlukan agar pelaku usaha mengetahui penyebab perubahan tersebut dan dapat merencanakan produksi berikutnya dengan lebih baik.
Cara Menghitung Hasil Olahan Singkong
Penghitungan hasil produksi dapat dimulai dengan mencatat berat singkong sebelum diolah dan berat produk setelah selesai dibuat. Catatan tersebut menjadi dasar untuk menghitung persentase hasil atau rendemen. Nilai ini menunjukkan perbandingan berat produk akhir terhadap berat bahan baku yang digunakan.
Agar pengukuran lebih mudah, gunakan timbangan yang sesuai dan pastikan wadah tidak ikut dihitung sebagai berat bahan. Pengusaha yang membuat keripik juga dapat mempertimbangkan mesin pemotong singkong untuk membantu menyiapkan irisan secara lebih seragam. Pilihan peralatan pengolahan lainnya dapat dilihat melalui situs Rumah Mesin. Berikut tahapan untuk menghitung hasil olahan dengan lebih teratur.
1. Timbang Bahan Sebelum Diolah
Catat berat singkong yang baru dibeli sebelum proses pengupasan dimulai. Misalnya, usaha camilan menerima 20 kilogram singkong untuk satu kali produksi. Angka tersebut menjadi berat awal yang digunakan sebagai dasar perhitungan. Jika bahan berasal dari beberapa pemasok, catat setiap penerimaan agar jumlah yang digunakan dapat ditelusuri dengan jelas.
2. Catat Berat Setelah Pengupasan
Setelah kulit dan bagian yang tidak digunakan dibuang, timbang kembali singkong yang siap diolah. Contohnya, dari 20 kilogram singkong utuh diperoleh 16 kilogram bahan bersih. Artinya, terdapat selisih 4 kilogram dari tahap awal. Selisih tersebut perlu dicatat sebagai bagian yang tidak masuk ke proses selanjutnya, bukan langsung dianggap sebagai kerugian produk jadi.
3. Timbang Produk Setelah Selesai Diproses
Lakukan penimbangan setelah produk melewati seluruh tahap pengolahan. Sebagai contoh, 16 kilogram singkong bersih menghasilkan 6 kilogram keripik setelah digoreng dan ditiriskan. Berat akhir ini dipengaruhi oleh air yang keluar, bagian yang terbuang, serta minyak yang terserap selama proses memasak. Gunakan kondisi penimbangan yang sama pada setiap produksi agar hasilnya mudah dibandingkan.
4. Hitung Persentase Hasil Produksi
Gunakan rumus berikut untuk mengetahui rendemen berdasarkan berat bahan awal:
Rendemen = (Berat produk akhir ÷ Berat bahan awal) × 100%
Jika 20 kilogram singkong menghasilkan 6 kilogram keripik, perhitungannya adalah 6 ÷ 20 × 100% = 30%. Artinya, berat keripik akhir setara dengan 30% dari berat singkong utuh yang digunakan. Angka ini merupakan contoh perhitungan, bukan patokan untuk semua jenis keripik.
5. Hitung Biaya per Kilogram Produk
Jumlahkan biaya singkong, bumbu, minyak, energi, tenaga kerja, dan kemasan yang digunakan selama produksi. Misalnya, total biaya satu kali produksi mencapai Rp300.000 dan menghasilkan 6 kilogram keripik. Biaya produksi rata-rata menjadi Rp50.000 per kilogram. Perhitungan ini dapat membantu menentukan harga jual, tetapi pengusaha tetap perlu memperhitungkan margin keuntungan dan biaya lain yang belum tercatat.
6. Evaluasi Hasil Setiap Produksi
Bandingkan data dari beberapa kali proses untuk melihat perubahan jumlah produk jadi. Jika hasil menurun, periksa kondisi bahan baku, banyaknya bagian yang terbuang, ketebalan irisan, serta teknik memasak. Catatan produksi membantu menemukan penyebab perbedaan dan menjadi dasar untuk memperbaiki proses kerja.
Kesimpulan
Cara menghitung hasil olahan singkong dilakukan dengan menimbang bahan awal, mencatat berat setelah persiapan, lalu mengukur produk akhir. Data tersebut dapat digunakan untuk menghitung rendemen dan memperkirakan biaya produksi per kilogram.
Bagi pelaku usaha, pencatatan yang konsisten memudahkan perencanaan bahan, pengendalian biaya, dan evaluasi kualitas produk. Gunakan hasil pengukuran nyata dari setiap produksi agar keputusan bisnis didasarkan pada kondisi usaha sendiri, bukan sekadar perkiraan.

